Sweet But Strong : Refleksi Feminisme dalam Drakor When Life Gives You Tangerines

When Life Gives You Tangerines, drama Korea terbaru yang dibintangi IU dan Park Bo-gum, bukan hanya kisah romansa berlatar pulau Jeju di masa lalu. Drama ini adalah perwujudan narasi feminisme yang halus namun kuat. Melalui karakter-karakter perempuan, terutama Ae-sun dan para haenyeo, penonton diajak merefleksikan bagaimana perempuan menghadapi keterbatasan, patriarki, dan tekanan sosial, namun tetap berdiri teguh dan bersuara.

Ae-sun: Simbol Kelembutan yang Kuat

When Life Give You Tangerines/Netflixkr

Tokoh Ae-sun adalah wajah dari perempuan muda yang bermimpi besar di tengah keterbatasan sosial dan ekonomi. Ia menunjukkan bahwa keinginan untuk merdeka, belajar, dan menjadi penyair bukanlah hak eksklusif kaum laki-laki. Dalam feminisme, ini mencerminkan nilai kesetaraan kesempatan dan kemandirian perempuan.

Ae-sun menjadi inspirasi karena mewakili sosok perempuan yang tak hanya patuh pada takdir, tapi berani mendefinisikan takdirnya sendiri. Ia ingin berpikir, bermimpi, dan menulis — sesuatu yang pada masa itu dianggap asing bagi seorang perempuan muda di Jeju. Ini merefleksikan konsep feminist agency, yaitu kemampuan perempuan mengambil keputusan bagi hidupnya sendiri (Hooks, 2000).

Baca juga:  Femisida: Ketika Perempuan Dibunuh karena Gendernya

Haenyeo: Warisan Perempuan Pekerja Keras

When Life Give You Tangerines/Netflixkr

Salah satu kekuatan visual dan naratif dalam drama ini adalah haenyeo, para penyelam wanita tradisional Jeju. Mereka bekerja keras menyelam ke laut tanpa alat bantu untuk mencari nafkah bagi keluarga. Mereka bukan simbol kelemahan, melainkan ketahanan dan dedikasi.

Menurut penelitian oleh Choi & Kim (2019), haenyeo telah menjadi simbol feminisme budaya karena menunjukkan bagaimana perempuan memegang peranan penting dalam struktur ekonomi lokal — bahkan sebelum istilah feminisme populer.

Dalam drama ini, ibu Ae-sun menjadi cerminan dari ketekunan yang dibungkus kelembutan. Ini adalah perwujudan nyata dari gagasan “sweet but strong” — lembut dalam kasih, kuat dalam tekad.

Baca juga:  Bae Suzy Reuni dengan Kim Woo Bin Lewat 'Genie, Make A Wish'

Gaya Busana: Representasi Identitas dan Perjuangan

Busana Ae-sun yang berubah dari hanbok lusuh khas desa menjadi pakaian yang lebih ekspresif saat ia tumbuh dewasa merupakan simbol visual dari emansipasi perempuan. Perubahan ini mengilustrasikan bagaimana fashion dapat menjadi medium ekspresi identitas dan perjuangan.

Dalam kajian teori fashion dan feminisme, Sandra Bartky (1990) menyebutkan bahwa tubuh perempuan dan busananya adalah “lokasi ideologis” — tempat terjadinya tawar-menawar antara kebebasan dan kontrol. Dalam konteks Ae-sun, gaya berpakaian bukan sekadar estetika, melainkan pernyataan tentang siapa dia dan siapa dia ingin jadi.

Relasi Ae-sun dan Gwan-sik: Kesetaraan dalam Cinta

When Life Give You Tangerines/Netflixkr

Ae-sun tidak hanya kuat sebagai individu, tetapi juga dalam relasinya. Gwan-sik tidak menjadi penyelamat, tetapi mitra. Relasi mereka dibangun atas dasar saling mendukung, bukan dominasi.

Baca juga:  Kami Merias Diri di Tengah Reruntuhan : Estetika Perlawanan Perempuan Gen Z

Hubungan ini menampilkan nilai-nilai feminisme relasional, di mana cinta sejati tak melulu berarti mengalah, tetapi tumbuh bersama dalam kesetaraan. Dalam banyak narasi K-drama, sosok laki-laki kerap dominan dan posesif. Namun dalam drama ini, Gwan-sik memberi ruang bagi Ae-sun untuk berkembang.

When Life Gives You Tangerines adalah bentuk sinema yang berhasil menggabungkan elemen feminisme, budaya lokal, dan fashion sebagai narasi. Dari perjuangan Ae-sun hingga para haenyeo, dari gaya berpakaian hingga relasi romantis, semuanya menjadi refleksi tentang bagaimana perempuan bisa manis namun tetap kuat — sweet but strong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top