Bagi penyuka fashion dan kecantikan dari Asia timur, pasti pernah melihat foto kaki yang jenjang dan kurus. Di media sosial, jenis kaki ini memiliki sebutan chopstick legs. Bentuk kaki ini bisa didapat lewat diet dan olahraga, tapi beberapa perempuan memilih cara ekstrim untuk memenuhi standar tersebut.
Standar Kecantikan Tubuh Tiongkok
Standar kecantikan Asia timur adalah perpaduan karakteristik Asia seperti kulit putih dan tampilan yang manis seperti aegyo-sal, dan fitur wajah Eropa seperti kelopak mata ganda dan hidung mancung.
Di Tiongkok ada tekanan untuk menjadi sekurus dan seringan mungkin karena dianggap lebih feminin. Walaupun negara-negara Barat juga menganggap tubuh yang langsing itu cantik, masih ada perbedaan tentang tubuh perempuan. Badan langsing dengan definisi otot dan badan yang kencang adalah idaman, namun negara-negara di Asia timur hanya mementingkan tampilan sekurus mungkin dengan otot yang tidak terlalu terbentuk.
Ini menyebabkan tren-tren kecantikan di media sosial yang dianggap mendorong gangguan badan demi terlihat kurus seperti tren pinggang yang sekecil kertas A4, menaruh koin di tulang selangka, hingga filter kaki sumpit di media sosial, yang menunjukkan perbedaan standar kecantikan.
Para influencer dari negara-negara barat kerap menyebarkan konten untuk mendapatkan tubuh bagian bawah yang lebih kuat, termasuk betis yang terlihat kuat dan besar. Berbeda dengan konten-konten olahraga dari influencer Tiongkok yang memberikan cara untuk mengecilkan betis.
Operasi Mengecilkan Betis
Standar kecantikan yang ketat mendorong perempuan-perempuan Tiongkok untuk berusaha keras mengikuti standar tersebut, bahkan dengan cara yang membahayakan. Dari diet ekstrim, hingga operasi pemotongan saraf untuk mengecilkan kaki yang bernama calf neurectomy atau neurektomi saraf.
Pemotongan saraf yang mengendalikan otot betis akan membuat otot betis menerima sedikit sinyal untuk menekuk. Saat itu terjadi, otot-otot di bagian bawah kaki akan mulai mengecil, yang memberikan kaki kurus yang diidamkan oleh pasien.
Resiko Operasi
Menurut Chinadaily.com, Chinese Medical Doctor Association menyatakan bahwa operasi ini dapat menyebabkan cedera saraf pada kaki yang bersifat permanen dan juga disfungsi motorik. Para ahli juga menyatakan bahwa operasi tersebut tidak memiliki bukti ilmiah serta bertentangan dengan etika kedokteran.
Sebuah wawancara pada 20 Mei 2021 dari The Paper dengan Dokter Deng Zhun juga mengatakan bahwa pasien penderita cedera saraf dan atrofi otot betis mengalami rasa sakit terus menerus dan ingin bisa sembuh. Beliau juga menambahkan tidak ada saraf yang kurang penting, dan begitu sebuah saraf cedera peluang untuk benar-benar sembuh sangatlah rendah.
Operasi ini mahal, memiliki resiko tinggi, dengan legalitas yang meragukan. Jika operasi ini lancar, pasien akan mendapatkan kaki langsing sesuai standar kecantikan yang ada. Namun kegagalan dapat menyebabkan cacat permanen atau kesakitan. Di beberapa kasus, para pasien kehilangan kemampuan untuk berlari maupun melompat.
Dalam interview di Sixth Tone, salah satu dokter operasi plastik dari Peking University Third Hospital mengatakan bahwa para dokter tidak tahu seberapa banyak saraf betis yang harus dipotong. Sayangnya hal ini tidak menghentikan para perempuan dari membayar untuk mendapatkan operasi ini.
Keinginan perempuan untuk menjadi cantik itu manusiawi, namun jangan lupa bahwa pada akhirnya kesehatan dan nyawamu itu tidak boleh dikompromikan!