Di tengah dunia motorsport yang kerap diidentikkan dengan pria, kehadiran Shafa Mazaya seperti angin segar yang memutar arah. Menggunakan nama akun TikTok @inisiapayagatau, Shafa dikenal sebagai F1 Girlie—julukan yang justru menjadi simbol kekuatannya dalam mendobrak stereotip.
Sejak mulai mengunggah konten pada tahun 2023, Shafa sudah tahu apa yang ingin ia bawa: menjadikan Formula 1 lebih accessible, relatable, dan tentunya lebih inklusif untuk perempuan muda. Dengan gaya bahasanya yang luwes dan berani, ia menyulap paddock dan grid start menjadi obrolan asyik di layar smartphone.
Membangun Komunitas di TikTok dan Dunia Nyata
Dari pembahasan tentang keunggulan aerodinamika Red Bull hingga update rivalitas panas antara Max Verstappen dan Lewis Hamilton, Shafa mengemas segalanya dengan gaya khasnya. Tak heran jika kini ia telah mengumpulkan lebih dari 60.000 pengikut di TikTok hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.
Namun, pengaruh Shafa tak hanya terbatas di dunia maya. Ia aktif membangun komunitas melalui event F1 Watch Party yang digelar secara rutin di Jakarta. Acara ini tak hanya jadi ajang nonton bareng, tapi juga tempat networking dan bertukar insight bagi sesama pecinta F1 dari berbagai latar belakang—terutama perempuan yang sebelumnya merasa “bukan target market”.
Passion yang Jadi Profesi
Pada akhir tahun 2024 lalu, mimpi Shafa bertransformasi menjadi kenyataan. Ia resmi bergabung sebagai Digital Specialist di Red Bull Indonesia. Sebuah lompatan besar yang sekaligus sangat personal, mengingat Red Bull sangat dekat dengan passionnya yaitu F1.
Tak berhenti di situ, Shafa juga bergabung sebagai Marketing Communication Media Officer untuk Jakarta E-Prix, ajang balap mobil listrik kelas dunia yang menjadi bagian dari kalender resmi FIA Formula E.
Dari membuat konten di kamar sendiri, kini Shafa jadi bagian langsung dari struktur komunikasi dan strategi tim global. Ia menjadi contoh nyata bahwa passion, jika digarap dengan konsisten dan otentik, bisa mengantarkan seseorang ke industri yang selama ini hanya ia impikan.
Perempuan, F1, dan Representasi
Dalam banyak wawancara dan story-nya, Shafa Mazaya menekankan pentingnya representasi. Ia percaya bahwa perempuan punya tempat di motorsport, entah sebagai fans, pembalap, engineer, ataupun content creator. Ia sering menyuarakan bahwa mencintai F1 tidak harus menguasai teknikalitas—yang penting adalah semangat, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk bersuara.
“F1 Girlie” dulu mungkin jadi bahan becandaan. Tapi Shafa merubah itu jadi pernyataan: bahwa lo bisa suka F1, pake kuteks warna Ferrari red, dan tetep ngerti beda antara overcut dan undercut. Bahkan lebih ngerti daripada cowok-cowok yang suka bilang “kamu cuma nonton karena pembalapnya cakep.”
Justru dari situ, kekuatan Shafa muncul. Dia mengambil stereotip, terus dibakar kayak exhaust gas mobil F1. Dan hasilnya? Branding kuat, representasi jelas, dan pengaruh yang real.
Masa Depan Motorsport di Tangan Generasi Z
Shafa adalah simbol perubahan generasi. Ia membawa nafas baru dalam dunia olahraga otomotif, membuktikan bahwa generasi Z bukan sekadar penonton pasif tapi penggerak industri. Melalui kontennya, ia menyulut semangat perempuan muda Indonesia untuk tak ragu terjun ke bidang yang masih dianggap “maskulin.”
Kini, ia bukan sekadar konten kreator. Ia adalah ikon motorsport Indonesia yang hadir dengan gaya otentik, menyenangkan, dan membangun. Ia menjembatani antara fans dan industri, antara gaya pop dan teknologi tinggi, antara cinta dan profesi.