Seni sebagai Perlawanan Kekerasan Seksual!

Seni adalah cerminan jiwa dari pembuatnya, dan karya-karya Artemisia Gentileschi yang penuh kekerasan menunjukkan amarah yang besar terhadap kekerasan seksual yang dialaminya di usianya yang belia. Keberadaannya sebagai perempuan yang berhasil mencapai status sebagai pelukis baroque legendaris nomor dua setelah Caravaggio di zaman itu membuktikan bahwa perempuan bisa bangkit secara hebat setelah mengalami kesulitan dan keterpurukan dalam hidupnya. Ratusan tahun telah berlalu, namun visinya tentang kekerasan seksual masih relevan dengan zaman ini. Yuk, simak kisah Artemisia!

Masa Lalu Artemisia

Bakat yang dibatasi

Artemisia terlahir di Roma pada 8 Juli, 1593. Ayahnya yang bernama Orazio adalah seorang pelukis. Artemisia muda telah terbukti berbakat dalam bidang seni, namun perempuan saat itu tidak bisa mengenyam pendidikan pendidikan seni secara formal. Alhasil, Ia belajar melukis dengan ayahnya di studio pribadi. Orazio memiliki teman kerja yang berperan sebagai mentor Artemisia, bernama Agostino Tassi. Tassi sendirilah yang kemudian memperkosanya di studio tersebut.

Keadilan yang tidak memihak korban kekerasan seksual

Pada masa itu, hukum tentang pemerkosaan tidak adil bagi perempuan dan dipandang sebagai penghinaan terhadap keluarga perempuan daripada kejahatan terhadap korban sendiri. Itu menyebabkan Tassi berjanji bahwa Ia akan menikahi Artemisia untuk mengembalikan kehormatannya.

Baca juga:  Lomba Nasional BeautyHub 2025 [DIPERPANJANG]

Di pengadilan, sidang berfokus pada mengembalikan kehormatan keluarga Gentileschi dan memastikan bahwa Tassi akan memenuhi janjinya. Artemisia pun mengalami siksaan untuk memastikan bahwa Ia tidak berbohong. Siksaan tersebut bernama “sibille” dimana jari-jarinya diikat dan tali tersebut diperketat sampai ia kesakitan.

Saat disiksa, Artemisia bersikeras bahwa Tassi memperkosanya, dan akhirnya Tassi terdakwa sebagai pelaku pemerkosaan. Namun, Tassi tidak mengalami konsekuensi yang berat karena dia adalah pelukis favorit dari Paus. 

Kebangkitan dari Keterpurukan

Setelah peradilan, Artemisia menikah dengan Pierantonio Stiattesi dan mereka berdua pindah ke Florence pada tahun 1612. Di Florence, karirnya sebagai seorang pelukis melejit setelah Cosimo II de’ Medici, seorang Adipati Agung dari Toscana menjadi kliennya. Tidak hanya itu, dia juga diterima sebagai perempuan pertama di Akademi Seni dan Gambar pada tahun 1616. 

Karya-karya ikoniknya sebagai Bentuk Perlawanan Kekerasan Seksual

Susanna and the Elders

Menurut Perjanjian Lama, Susanna dituduh berzina secara palsu setelah menolak dua pria yang memerasnya untuk berhubungan badan dengan mereka. Seringkali, ekspresi Susanna yang dilukis oleh laki-laki lebih pasif dan pasrah, seperti dalam  karya Pietro Muttoni, Peter Lely, dan Gellért Áment

Baca juga:  Perempuan dan Baking: Manisnya Self-Healing

Bedanya, lukisan Susanna dan Para Tetua oleh Artemisia menunjukkan keputusasaan yang diiringi oleh rasa takut dan jijik yang sangat jelas, dan Susanna terlihat seperti dia berusaha untuk melindungi dirinya sendiri.

Judith Slaying Holofernes

Judith Slaying Holofernes terinspirasi dari Kitab Yudit di Perjanjian Lama, dimana seorang jenderal dari Assyria bernama Holofernes yang tertidur karena mabuk dibunuh oleh Yudit dan dayangnya Abra untuk menyelamatkan kotanya dari dikuasai oleh musuh.

Peran sang dayang dalam lukisan itu yang secara aktif membantu Yudit membunuh Holofernes berbeda dari lukisan pelukis baroque nomor satu saat itu. Caravaggio menggambarkan peran Abra sebagai pasif, ditunjukkan oleh Abra yang memegang nampan untuk kepala Holofernes sementara Yudit membunuhnya. Abra dalam lukisan Artemisia memegangi Holofernes agar Yudit bisa menusuk tenggorokan sang jenderal. Hal ini menunjukkan sebuah perbedaan yang mencolok akan peran perempuan sebagai objek lukisan.

Baca juga:  Penuaan Dini: Tips Mencegah agar Kulit tetap Awet Muda

Lucretia

Lucretia, seorang wanita bangsawan di zaman Romawi kuno diperkosa oleh Tarquin, anak dari raja Romawi terakhir. Kekerasan seksual yang menyebabkan bunuh dirinya adalah salah satu penyebab transisi pemerintahan kerajaan Romawi kuno menjadi Republik.

Tragedi ini kerap menjadi tema lukisan, namun, Artemisia menjadikan Lucretia satu-satunya objek lukisan. Ekspresi wajah Lucretia, dengan mata yang berkaca-kaca yang menunjukkan keputusasaan yang mendalam. Ini  berbeda dengan kebanyakan lukisannya yang lain yang cenderung melukis Tarquin juga, dan menggambarkan Lucretia yang pasrah dengan ekspresi yang minim.

Artemisia tidak pernah menghindari kenyataan-kenyataan yang pahit mengenai sisi gelap dari terlahir sebagai seorang perempuan, tidak seperti kebanyakan seniman laki-laki yang melihat perempuan dari sudut pandang yang cenderung idealis atau seperti fantasi. Seorang pelukis yang berhasil bangkit, tidak peduli sekejam apa lingkungannya, yang berhasil menyampaikan visinya mengenai kenyataan hidup sebagai seorang perempuan yang masih relevan setelah sepeninggalannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top