Perempuan Sebagai Gender yang Progresif

Perempuan Sebagai Gender yang Progresif

Penempatan identitas perempuan dalam pekerjaan domestik telah melekat cukup lama. Hal ini tentu tidak terlepas dari warisan sejarah dan paham-paham yang berkaitan dengan budaya dan kepercayaan masyarakat. Dalam konsep beberapa tradisi dan kepercayaan tersebut, perempuan sengaja ditempatkan di belakang untuk bisa memberikan perlindungan kepada mereka sebagai seorang Ibu dan anak perempuan. Namun, peran yang awalnya hanya berdasar pada kondisi fisik dan biologis selama berabad-abad, justru membangun benteng besar yang secara mutlak membatasi perempuan hingga di dunia modern.

Paham-paham tersebut ditelan mentah-mentah dan membuat perempuan dianggap sebagai gender yang perannya terbatas pada urusan rumah tangga saja, bersamaan dengan munculnya istilah dapur, sumur, dan kasur. Dalam Memoar Sepatu: Cetakan Realitas di Antara Sumur, Dapur dan Kasur, yang ditulis Anindya, ia menjelaskan bahwa perempuan masih lekat dengan stereotip sumur, dapur, dan kasur karena sekumpulan ujaran, pengalaman, ungkapan canda, kebiasaan, dan pemakluman kecil tetapi terus berulang dalam setiap peristiwa sehari-hari, baik dalam ranah domestik rumah tangga maupun dalam lingkungan sosial seperti lingkungan kerja.

Ketika Perempuan Ingin Membaca

Kesadaran perempuan dan ambisi mereka untuk melakukan hal lain selain pekerjaan rumah dimulai dengan ambisi untuk menempuh pendidikan yang setara dengan laki-laki, pergerakan ini mulai banyak tercatat di sekitar abad ke 19 hingga 20. Contohnya, pada tahun 1840 di Inggris, 60% perempuan masih buta huruf dengan akses pendidikan yang masih bersifat eksklusif hanya bagi kelas bangsawan. Namun angka tersebut terus menurun, tak sampai dua dekade setelahnya, sekolah-sekolah yang untuk anak perempuan mulai dibuka, seperti Cheltenham Ladies’ College pada tahun 1853, dan Roedean School pada tahun 1885. Di tahun 1975, Inggris akhirnya secara terbuka menerima kehadiran perempuan di perguruan tinggi bersama laki-laki.

Baca juga:  10 Karakter Kartini Masa Kini! Bikin Perempuan Begitu Istimewa

Di belahan dunia lain, di Indonesia sekolah perempuan baru hadir pada tahun 1904, melalui inisiatif Dewi Kartika. Sekolah tersebut dinamai Sekolah Isteri. Dalam sekolah itu, para perempuan diberikan pelajaran tentang membaca, menulis, menjahit, dan keterampilan lagi yang berguna bagi perempuan. 

Ketika Perempuan Ingin Suara Mereka Terdengar

Selain akses pendidikan, keterlibatan perempuan dalam politik juga masih dianggap tabu oleh berbagai negara, setidaknya hingga abad ke 20. Di Amerika, sejak akhir tahun 1830-an. Banyak perempuan yang menjadi handal berorganisasi dan menemukan jalan mereka ke dalam gerakan hak pilih. Baru setelah munculnya Amandemen ke-19, yang memberikan hak pilih kepada perempuan. Setelah perjuangan yang panjang dan berliku-liku hak pilih perempuan akhirnya diakui pada tahun 1920.

Sama seperti Amerika, Italia juga baru mengakui hak pilih perempuan pada abad ke 20. Karena gerakan perlawanan yang dipimpin oleh banyak perempuan menyebabkan semakin banyak perempuan memasuki dunia politik di akhir masa perang. Pada tahun 1945, perempuan akhirnya dapat memberikan suara, setelah semua aksi protes yang dilakukan. 

Di Indonesia sendiri, sejak awal tidak ada larangan bagi perempuan untuk memilih. Perempuan terlibat aktif menggunakan hak pilihnya sejak awal pemilu diselenggarakan, serta diizinkan ikut berpolitik bersama laki-laki, sesuai UUD 1945, UU 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan UU 2 Tahun 2008 jo UU 2 Tahun 201, tentang partai politik.

Ketika Perempuan ingin Melangkah Lebih Jauh dari Rumah

Adanya pendidikan dan kesadaran politik, memperkuat keinginan perempuan untuk mewujudkan impian-impian mereka dalam ranah yang lebih besar lagi, yakni membangun karier mereka. Keterlibatan perempuan dalam dunia kerja sebenarnya sudah menjadi hal yang wajar sejak lama. Meskipun begitu, Organisasi Pekerja Internasional melaporkan bahwa jumlah pekerja perempuan saat ini tidak sampai 47%, dibanding laki-laki yang menyentuh angka 72%.

Baca juga:  5 Jenis Tumbler yang Aman untuk Sehari-hari, Jangan Sampai Salah Pilih!

Selain gap pada jumlah pekerja, perbedaan upah perempuan juga menjadi sorotan. Menurut data dari Parlemen Eropa, rata-rata upah perempuan di eropa lebih rendah 12% dibanding laki-laki, meski masih berada di sektor yang sama. Hal yang sama juga terjadi di Amerika, Australia, dan beberapa negara Asia yang baru diketahui.

Pergerakan untuk memperoleh kesetaraan dalam dunia kerja telah diperjuangkan perempuan melalui banyak cara,

Mengapa Perempuan Adalah Gender yang Progresif?

Perempuan yang muncul di ruang publik, perempuan yang terlibat dalam pemilihan umum, perempuan yang memperoleh pendidikan, perempuan yang bisa bekerja, bahkan perempuan yang mampu menjadi pemimpin saat ini, merupakan hasil perlawanan panjang perempuan-perempuan yang dibatasi di balik pintu rumah-rumah mereka, di masa lalu.

Perempuan dapat dianggap telah melakukan perubahan besar untuk gender mereka saat ini. Para perempuan yang berjuang tersebut mungkin tidak sempat merasakan dampak dari perubahan yang mereka perjuangkan. Namun yang pasti, mereka telah membuka pintu bagi saudari, putri, hingga sahabat mereka untuk mewujudkan mimpi yang semula tidak bisa mereka raih karena ada batasan bagi gender mereka.

Kemajuan zaman, menggerakkan perubahan, tapi perubahan tersebut tidak bisa langsung diterima perempuan karena stereotip yang melekat pada diri mereka. Mereka tidak bisa masuk sekolah karena tidak ada ilmu yang perlu dipelajari selain cara mengurus rumah tangga. Mereka tidak bisa langsung berpolitik karena kemampuan kepemimpinan mereka diragukan.

Namun, mereka begerak menggenggam satu sama lain. Secara perlahan pergerakan mereka membuahkan hasil. Kini, di abad ke-21, perempuan telah mampu mengubah nasib yang selama ini ditetapkan pada diri mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top