Over Konsumsi! Nggak butuh, tapi Tetap Dibeli

Apa kalian sadar? Bahwa masyarakat kita seolah-olah diprogram untuk menjadi konsumtif. Dari tren konser hingga antrian panjang untuk pop mart, dan kosmetik yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Setiap orang bebas untuk membeli apa yang mereka inginkan, tapi, ingat bahwa dalam jangka panjang konsumsi yang berlebihan justru akan merugikan diri sendiri. Yuk, simak tentang fenomena ini!

Apa itu over konsumsi?

Menurut Wikipedia, over konsumsi adalah situasi saat konsumen memanfaatkan jasa dan barang yang ada secara berlebihan sehingga mereka tidak bisa, atau tidak mau menggunakannya lagi atau mendaur ulang barang yang telah dibeli.

Apa penyebabnya?

Menurut APA (American Psychology Association), penyebabnya adalah distraksi. Menurut seorang peneliti bernama Murphy, saat seseorang mengalami distraksi saat melakukan aktivitas yang dianggap hedonis, rasa puas mereka akan berkurang. Maka mereka akan mengkonsumsi lebih banyak sebagai kompensasi ketidakpuasan itu.

Baca juga:  Face Roller vs Gua Sha: Perbedaan, Manfaat, dan Cara Memilih yang Tepat untuk Kebutuhanmu

Para peneliti menyebut fenomena ini disebut Hedonic Compensation, dan ini terjadi di aktivitas lain. Contohnya adalah saat seseorang terdistraksi saat bermain game, mereka akan cenderung melakukan konsumsi tambahan seperti doom scrolling.

Dampak over konsumsi

Over produksi

Perusahaan akan lebih banyak memproduksi barang karena tuntutan yang tinggi. Akan tetapi, saat saat barang yang diproduksi berlimpah berbanding telak dengan orang-orang yang sanggup membeli, harga akan turun.

The Great Depression terjadi karena ini. Harga turun, PHK terjadi dimana-mana, dan banyak perusahaan tutup.

Polusi

Saat seseorang telah merasa bosan dengan barang-barang yang mereka beli, atau barang tersebut kadaluarsa, mereka akan dibuang atau didonasikan. Jika barang yang dibeli disebabkan oleh FOMO, peminat akan berkurang setelah tren tersebut memudar. Mereka akan berakhir di pembuangan sampah.

Baca juga:  Self-Care Guilt: Saat Merawat Diri Terasa Salah

Mayoritas dari barang-barang tersebut terbuat dari bahan-bahan yang susah terurai seperti plastik dan polyester. Saat plastik terurai, kandungan kimia yang berbahaya dan gas rumah kaca tersebar. Tentu saja ini berbahaya untuk manusia maupun binatang. 

Krisis Air

Ini terkait dengan efek sebelumnya, dimana barang tersebut berakhir di air. Walaupun seseorang membuang barang bekas mereka di daratan, tetap saja bisa terbawa ke sumber air oleh angin atau hujan sehingga mengotori sungai dan lautan.

Sumber air yang bersih menjadi lebih sedikit, sementara banyak rakyat kehausan di berbagai negara yang berusaha mendapatkan air bersih untuk bertahan hidup.

Tidak hanya itu, ini juga menyakiti para fauna karena habitat mereka menjadi kotor. Banyak fauna yang tercekik oleh plastik atau bahkan mencernanya secara tidak sengaja.

Baca juga:  5 Tips Keluar dari Reading Slump, Biar Semangat Baca Lagi

 

Walaupun media sosial menunjukkan barang-barang yang lucu ke kita setiap hari, tidak bisa dipungkiri bahwa over konsumsi lebih merugikan daripada menguntungkan. Kesenangan yang didapat setelah belanja hanya bertahan sebentar, sementara dampaknya ke lingkungan dan ekonomi sangatlah panjang. Yuk, kurangi konsumsi yang berlebihan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top