“Pernah nggak sih kamu merasa seperti ‘terjebak’ dalam pikiranmu sendiri tentang seseorang? Setiap hari, bayangan tentang dia muncul tanpa diundang. Kamu stalking medsosnya diam-diam, mengingat setiap percakapan kecil, bahkan membayangkan skenario ‘what if’ seolah dia adalah jawaban dari semua kegalauanmu. Tapi, di balik kegundahanmu itu, pernahkan terbesit dalam pikiran: ”apa iya aku suka sama dia, atau jangan-jangan ini hanya pelarian dari sesuatu yang kurang dalam diriku?”
Memahami Kemelekatan dan Obsesi
Beberapa waktu lalu sebuah akun TikTok milik @inikakaknona888 sempat menyinggung tentang hal ini. Dalam video tersebut, sang creator berbagi pengalaman asmaranya, “Nona, kalau kamu suka banget sama itu cowok berarti dia punya sesuatu yang KAMU GAK PUNYA. Aku pernah suka banget sama 1 cowok hanya karena dia ganteng, ternyata aku waktu itu glow down parah/jelek. Setelah aku fokus percantik diri perasaan suka itu hilang.” pernyataan tersebut menuai validasi dari pengguna lain. Salah satu user mengomentari “aku kecintaan sama dia karena dia banyak uang kak, aku cuma waiter dia bisnis owner.” kata salah satu komentator.
Fenomena obsesi terhadap lawan jenis tenyata lebih kompleks daripada hanya sekedar ketertarikan fisik. Dalam dunia psikologi, hal yang kita kira sebagai cinta, bisa jadi adalah proyeksi dari diri kita yang belum utuh. Misal, kamu kurang dalam hal intelektual dan terobsesi pada orang yang sangat berwawasan, hal itu terjadi karena kamu ingin memiliki sifat itu. Carl Jung dalam teorinya menyatakan bahwa ini merupakan suatu konsep ketidaksadaran, di mana lawan jenis mewakili sisi kepribadian kita yang terpendam.
Selain itu, Bowlby dalam teorinya juga menyampaikan kalau obsesi bisa muncul dari kebutuhan di masa kecil yang tidak terpenuhi, sehingga seseorang mencari “penyelesaian” melalui hubungan dengan orang lain. Tidak terpenuhinya “satu hal” dalam diri bisa berbentuk rasa kurang percaya diri, keinginan untuk menyempurnakan hal yang tidak terpenuhi atau kebutuhan akan validasi. Maka dari itu, sangat penting untuk memahami obsesi, “apa benar ini cinta? Atau hanya sekedar kemelekatan dan obsesi?”
Tanda kamu terobsesi
Penting banget untuk mengenal apa yang sedang terjadi pada dirimu. Kemelekatan yang kamu pupuk dalam pikiran sebaiknya dilerai agar tidak mengganggu kegiatanmu. Coba bicara pada diri sendiri dan kenali hal ini:
1. Kamu Mengidealkan Mereka secara Berlebihan
Kekurangan yang tidak dapat kamu toleransi, tapi kamu terima dengan alasan “ah, ntar juga berubah” adalah bentuk pengabaian dalam diri. Dari awal sudah mulai tidak sreg tapi kamu tetap memaksakan karena fantasimu mengalahkan realita di hadapanmu. Sadari bahwa kamu mungkin hanya suka dengan dia yang ada dalam pikiranmu, bukan dia yang sesuai dengan realita.
2. Pikiran dan Energimu Selalu Terpusat pada Dia
Dari bangun tidur hingga tidur lagi, pikiranmu selalu tertuju pada orang itu. Ada satu hal dalam diri dia yang kamu tidak punya sehingga kamu ingin memenuhinya. Autokontrol dalam dirimu hilang sehingga pikiranmu tak dapat lepas dari orang itu.
3. Dependent Attachment
Mulai gundah ketika lawan bicaramu terlambat membalas pesan, atau merasa gundah ketika dia tiba-tiba hilang seharian, adalah bentuk dependent attachment style. Perasaan dan mood kamu bergantung pada perilaku seseorang. Kamu merasa cemas, khawatir dan takut ketika orang tersebut tiba-tiba menghilang.
Cara Menghentikan Obsesi
Sesuatu yang secara berlebihan tidaklah baik, termasuk dalam relationships. Agar kamu tidak berlarut-larut dengan pikiranmu, berikut hal-hal yang bisa kamu terapkan ketika kamu merasa sudah terobsesi dengan seseorang:
1. Jangan Denial dan Akui Bahwa Itu adalah Obsesi
Setelah kamu yakin akan perasaanmu, hal selanjutnya yang kamu perlu adalah menerima bahwa kamu mungkin ingin menjadi seperti dia, sehingga hal dalam dirimu yang tidak terisi tersebut memintanya.
2. Alihkan Energimu pada Dirimu Sendiri
Hal yang perlu kamu lakukan selanjutnya adalah memenuhi gelasmu sendiri. Hal yang kamu rasa hilang pada dirimu dan ada pada orang lain, mulai kamu isi sendiri. Misalnya, kamu yang dulu terobsesi sama orang pintar, mulai belajar skill baru, atau kamu yang dulu merasa hebat karena bisa mendapatkan pria tampan, kini mulai merawat diri.
3. Mengontrol diri dan mengurangi fantasi
Kamu mengembalikan lagi autokontrol terhadap perasaan dan pikiranmu, sehingga kamu tidak lagi terobsesi dengan dia yang ada dalam fantasi. Sadari akan hal-hal yang bisa ditolernasi dan mulai mengembalikan jalan kerja logika.
Beauties, ditengah kegundahanmu itu, coba tanyakan lagi pada dirimu: “apa yang sebenarnya aku cari? Jika ternyata adalah potongan dalam diriku yang hilang, apakah tidak sebaiknya aku cari dulu dalam diriku?” Penting banget untuk memahami obesesi karena cinta dan obsesi kadang sulit dibedakan, sama-sama bikin degdegan dan bikin susah tidur. Namun, alih-alih membuaimu dalam fantasi dan pikiran sehari-hari, cinta seharusnya membangun pribadimu menjadi lebih baik, bukan?