Industri kecantikan Korea Selatan (K-beauty) lama dikenal dengan produknya yang berfokus pada warna kulit terang. Namun, gelombang perubahan kini terjadi. Berkat desakan para influencer media sosial, merek-merek kosmetik Korea mulai memperluas jangkauan warna untuk kulit gelap. Merespons tuntutan inklusivitas yang semakin mengglobal.
Peran Krusial Influencer Media Sosial
Miss Darcei, kreator konten kecantikan asal Kanada dengan jutaan pengikut di TikTok dan Instagram, menjadi salah satu penggerak utama perubahan ini. Frustrasi karena tak menemukan alas bedak Korea yang cocok dengan kulit hitamnya. Ia mengunggah video uji coba produk di TikTok pada 2023. Klip tersebut viral dengan 25 juta tayangan, memicu diskusi tentang pentingnya diversitas warna dalam kosmetik.
“Saya pernah menghadiri acara di mana semua tamu mendapat bingkisan alas bedak, kecuali saya. Alasannya? Tidak ada shade yang sesuai,” kisah Darcei. Ulasannya mendorong TirTir, merek kosmetik Korea, meluncurkan 15 varian warna gelap. “Ini pertama kalinya saya menemukan alas bedak Korea yang pas. Bahkan produk Amerika pun jarang menyediakannya,” ujarnya.
Dampak Global dan Respons Pasar
Perubahan ini tak hanya dinikmati di Amerika Utara. Di Kenya Feirus Abdinoor Abdullah, manajer toko Glow Secret di Nairobi, menyatakan bahwa alas bedak Korea dengan pilihan warna gelap kini menjadi produk terlaris. “Pelanggan kami, terutama wanita kulit gelap, sangat menghargai inisiatif ini,” katanya.
Di Nigeria, pembuat konten Ojo Oluwaseunayo mengaku merasa “dilihat” setelah mencoba varian baru TirTir. Video review-nya di TikTok ramai mendapat respons positif. “Banyak yang meminta saya mengumumkan jika ada shade baru lagi,” ujarnya.
Tantangan Teknis dan Budaya
Kolmar Korea, produsen kosmetik untuk 3.700 merek global, mengungkap kompleksitas mengembangkan produk untuk kulit gelap. Misalnya, titanium dioksida—bahan umum dalam alas bedak Korea—justru membuat kulit gelap terlihat kusam.
“Kami melakukan riset dengan kelompok fokus dari Afrika dan Amerika untuk menciptakan formula yang tepat,” jelas Won Jung Choi, Kepala Studio Warna Kolmar.
Perbedaan preferensi kecantikan juga menjadi tantangan. Konsumen Korea cenderung memilih shade dua tingkat lebih terang. Sementara pengguna kulit gelap mengutamakan kecocokan warna dengan leher dan coverage alami.
Pertumbuhan Pasar dan Masa Depan K-beauty
Data Statista memproyeksikan pasar kecantikan Afrika tumbuh dari Rp1.085 triliun (2024) menjadi Rp1.396 triliun (2027). Gloria Achieng, jurnalis di Nairobi, menyebut K-pop dan K-drama sebagai pendorong utama popularitas kosmetik Korea di Afrika. “Produknya terjangkau dan efektif,” katanya.
TirTir sendiri mencatat kenaikan penjualan global hingga 3.096% setelah meluncurkan varian gelap. “Kami akan memperluas pilihan lipstik dengan 30 shade untuk berbagai warna kulit,” ungkap Lyla Kim, Manajer Pemasaran TirTir.
Dari TikTok hingga toko-toko di Nairobi, inklusivitas warna kulit gelap tak hanya mengubah wajah K-beauty, tetapi juga membuka pintu bagi pertumbuhan pasar yang lebih adil dan beragam.