Cannes Film Festival adalah festival film tahunan yang sangat bergengsi dan dinantikan oleh banyak orang di seluruh dunia, baik sineas, aktor, maupun pecinta film. Tahun ini, festival tersebut kembali diselenggarakan pada 13 hingga 24 Mei 2025 yang lalu, dan menjadi tahun ke-78 sejak pertama kali diadakan.
Setiap film yang tayang di Cannes telah melalui proses seleksi yang sangat ketat. Karena itu, bisa menampilkan karya di sana merupakan pencapaian besar bagi para sutradara. Bagi banyak dari mereka, ini bukan hanya soal pengakuanp, tapi juga tentang memperkenalkan suara dan sudut pandang mereka ke dunia internasional.
Menariknya, meskipun industri film masih banyak diisi oleh laki-laki, semakin banyak sutradara perempuan yang hadir dan bersinar di Cannes. Mereka membawa cerita yang berbeda, lebih personal, kuat, dan penuh makna, terutama dalam menggambarkan pengalaman perempuan.
Sebagai penonton, kita bisa ikut merayakan keberagaman ini dengan memberikan apresiasi pada karya-karya mereka. Berikut ini adalah tujuh film sutradara perempuan pilihan Cannes Film Festival 2025 yang layak kamu tonton karena berhasil menyampaikan cerita perempuan dengan cara yang menarik dan menyentuh.
Partir Un Jour (Leave One Day) – Amélie Bonnin
Cannes Film Festival memilih Parti Un Jour sebagai opening film di luar kompetensi. Hal ini pertama kali dalam sejarah mereka memilih feature film dari sutradara perempuan. Tentunya Amelie Bonnin dapat berbangga hati atas prestasinya itu. Selain itu, karyanya ini masuk ke dalam nominasi Golden Camera di Cannes Festival Film 2025.
Sebelumnya dengan judul yang sama, Amelie sudah menciptakan versi film pendek yang berhasil memenangkan penghargaan Cesar di Prancis pada tahun 2023. Namun dalam versi feature film ini, dia menampilkan dengan elemen musikal yang menjadi warna baru pada cerita. Film ini telah dirilis secara resmi pada tanggal 13 Mei 2025.
Berangkat dari kisah seorang perempuan bernama Cécile yang meninggalkan kota asalnya, demi membangun hidup seperti yang ia impikan. Ia berhasil menjadi seorang chef ternama dan membuka restoran gourmetnya di Paris. Suatu ketika, dia harus kembali ke kota asalnya sebab adanya urusan keluarga. Kepulangannya mempertemukannya kembali dengan Raphaël, mantan gebetannya semasa remaja. Sekaligus, membawanya pada kenangan-kenangan masa lalu yang ia lupakan.
Alpha – Julia Ducournau
Setelah sukses meraih Palme d’Or pada tahun 2021 lewat film Titane, Julia Ducournau kembali hadir di Cannes dengan karya terbarunya yang mengusung genre drama dan body horror. Rencanya film ini akan tayang pada 20 Agustus 2025.
Berlatarkan waktu sekitar tahun 1980 hingga 1990-an, film ini menceritakan seorang gadis bernama Alpha (13 Tahun) yang tinggal bersama ibunya. Di usianya tersebut, ia sedang menghadapi fase remaja yang penuh dinamika. Suatu hari, dia pulang dari sebuah pesta dengan sebuah tato baru yang menghiasi lengannya. Namun dia tidak menyangka bahwa hal ini menjadi awal mula masalah dan menimbulkan rasa paranoid dalam dirinya.
Film ini menunjukkan upaya Ducournau untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit menular seperti AIDS, yang bisa menyebar lewat jarum suntik yang digunakan bergantian.
Die My Love – Lynne Ramsay
Karya Lynne Ramsay kembali hadir dalam Cannes Film Festival 2025 untuk kedelapan kali. Kali ini, ia menggaet Jennifer Lawrence dan Robert Pattinson untuk berperan dalam film terbarunya yang bernuansa dark comedy dan thriller. Hal ini berhasil membawanya ke daftar nominasi Palme d’or 2025.
Film ini mengadaptasi cerita dari novel Die My Love karya Ariana Harwicz yang Terbit pada tahun 2012. Mengisahkan Grace, seorang perempuan yang menikahi Jackson. Kemudian, mereka membangun kehidupan di sebuah pedesaan. Namun, setelah kelahiran anak laki-lakinya yang bernama Harry. Ada sesuatu yang aneh dengan Grace. Ia berubah menjadi perempuan yang kaku dan membosankan, dengan perilaku tak menentu. Mertuanya menduga dia mengalami depresi pasca melahirkan. Akan tetapi kondisinya ini semakin memburuk dan sulit dikendalikan.
In Die Sonne Schauen (Sound of Falling) – Mascha Schilinski
Mascha Stilinski, sutradara asal Jerman, berhasil membawa pulang Jury Prize di Cannes Film Festival 2025 lewat karyanya, Sound of Falling. Filmnya ini telah dijadwalkan tayang mulai 11 September 2025.
Film bergenre drama ini bercerita tentang empat gadis dari generasi berbeda, yaitu Alma, Lenka, Erika, dan Angelika. Mereka saling terhubung karena sama-sama menghabiskan waktu hidup di sebuah peternakan di daerah Altmark, yang terletak di sebelah utara Jerman.
Dalam karyanya ini, Mascha menawarkan konsep cerita dimana di dalam sebuah rumah yang sudah berdiri berabad-abad, masih menyimpan jejak masa lalu di dalamnya. Walaupun mereka berbeda waktu, namun kehidupan mereka saling mencerminkan. Film ini akan mengeksplorasi bagaimana kenangan dapat menentukan jalan takdir kita. Serta, cara kita mengingat dan memaknai suatu hal.
Romería – Carla Simón
Film asal Spanyol ini menceritakan Marina (18 tahun), seorang gadis yang perlu mengurus dokumen status sipil untuk keperluan beasiswa di perguruan tinggi. Sejak 6 tahun, dia sudah kehilangan orangtua karena AIDS dan kecanduan narkoba. Sehingga, ia tidak mengetahui asal-usul dirinya. Hal ini membawanya dalam perjalanan ke Pantai Atlantik, Spanyol untuk mencari tahu tentang keluarganya. Dia menuju tempat tinggal relasi dari keluarga ayah biologisnya yang dia tidak kenal. Perjalanan itu membuatnya untuk mengungkap rahasia keluarga yang tersembunyi.
Tidak hanya menyutradarai film bergenre biografi, drama dan romance ini, Carla Simón turut menulis skenario pada film ketiganya ini. Cerita film ini terinspirasi dari rasa frustasinya terhadap pengalaman kehilangan orang tua akibat AIDS. Dengan keberanian dalam mengungkapkan cerita masa lalunya yang berat, Carla berhasil masuk nominasi Palme d’or di Cannes Film Festival 2025.
La Petite Dernière (The Little Sister) – Hafsia Herzi
Hafsia Herzi merupakan salah satu sutradara perempuan asal Perancis yang juga berkesempatan mengikuti Cannes Film Festival. Meskipun ia tidak memenangkan dalam nominasi Palme d’or 2025. Namun, film ini dianugerahi The Queer Palm 2025, penghargaan khusus kepada film yang mengangkat tema atau karakter berkaitan dengan LGBTQIA+, feminisme, penentangan terhadap norma gender. Selain itu, aktris yang memerankan tokoh utama, Nadia Melliti, juga berhasil meraih gelar Best Actress dalam kategori Feauture Films.
Film yang dibalut drama ini bercerita tentang Fatima (17 tahun), anak bungsu dari 3 bersaudara dalam keluarga berdarah Aljazair. Ia mulai menyadari adanya hasrat ketertarikan dengan sesama jenis. Ketika kuliah dia Paris, is seperti memasuki dunia baru yang terlepas dari keluarga dan tradisinya. Namun disisi lain, timbul kegundahan dan krisis identitas, sebab hasratnya tersebut bertentangan dengan keyakinan agamanya.
Runowaru (Renoir) – Chie Hayakawa
Renoir menjadi film ketiga Chie Hayakawa yang terpilih di tayangkan di Cannes Film Festival. Sebelumnya, film Plan 75 pada tahun 2022 berhasil meraih penghargaan Golden Camera (special mention). Sementara pada tahun 2025 ini, ia berhasil memasukan karyanya ke dalam nominasi Palme d’or dengan film bergenre drama dan coming of age.
Chie Hayakawa bersama KawanKawan Media (rumah produksi asal Indonesia) dan Loaded Films, akan membawa kita kembali ke musim panas di tahun 1980-an. Bertepatan pada saat Jepang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi. Menampilkan tokoh Fuki (11 tahun), gadis dengan kepribadian sensitif namun eksentrik. Ia diceritakan sedang menghadapi masalah dimana ayahnya menderita kanker dan ibunya harus bekerja. Selain itu, Fuki kerap berinteraksi dengan berbagai orang yang tengah berjuang menangani masalah di masa dewasa.
Kehadiran sutradara perempuan di Cannes Film Festival 2025 menunjukkan semakin kuatnya suara wanita dalam dunia perfilman internasional. Melalui karya-karya mereka yang beragam dan penuh makna, para sineas perempuan ini berhasil menghadirkan perspektif unik dan cerita yang menggugah. Semoga apresiasi terhadap film-film mereka terus meningkat, membuka lebih banyak ruang kreativitas dan keberagaman dalam industri film.