Hari Kartini

5 Buku Inspiratif tentang Perempuan yang Melawan, Cocok Dibaca di Hari Kartini!

Hari Kartini menjadi peringatan yang istimewa. Perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat perempuan dan melawan penjajah menjadi dobrakan baru yang mengubah Indonesia. Kartini mengajak perempuan melawan ketidakadilan gender yang terjadi, juga aktif dalam menulis. Ia sering menyuarakan pendapatnya lewat tulisan-tulisan tersebut. 

Salah satu cara meneruskan perjuangan Kartini adalah ikut melanjutkan suara-suaranya dengan terus membaca dan menulis. Nah, untuk mengisi Hari Kartini 21 April 2025, ada beberapa buku yang wajib Beauties baca untuk terus memupuk semangat perlawan dan perjuangan RA Kartini.

5 Buku Inspiratif tentang Perempuan yang Melawan

Perempuan di Titik Nol

Perempuan Melawan
Perempaun di Titik Nol (Goodreads)

Perempuan di Titik Nol menceritakan seorang perempuan Mesir bernama Firdaus yang ditindas dan mengalami ketidakadilan budaya patriarki. Sejak kecil Firdaus kerap mendapatkan tindakan asusila dari orang-orang di sekitarnya. Ketika dewasa ia mencoba melawan hal tersebut dengan cara ekstrim. Kuatnya budaya patriarki justru menjadi puncak dan muasal dari konflik yang terjadi. 

Baca juga:  Dokter Jelaskan Kulit Glowing Bukan Soal Warna Putih, Tapi Kesehatan dan Kelembapan yang Optimal

Ditulis oleh Nawal El Saadawi, seorang feminis dan aktivis Mesir, buku ini adalah sebuah kritik sosial akan ketidakadilan dan bagaimana patriarki meletakkan perempuan hanya sebagai objek semata. Buku ini bersampul merah, seberani isinya. Cocok untuk dikaji lebih lanjut, atau sebagai diskusi bersama. Firdaus adalah sosok perempuan melawan yang patut ditiru keberaniannya.

Sisi Tergelap Surga

Perempuan Melawan
Sisi Tergelap Surga (goodreads)

Buku ini menceritakan tentang kehidupan manusia di gang-gang sempit di Kota Jakarta. Memiliki 18 karakter dengan konfliknya masing-masing. Buku ini sangat kompleks, tak hanya menyorot isu kemiskinan, tapi juga isu sosial antara perempuan dan laki-laki. Menggambarkan, betapa suara perempuan tidak didengar, pelecehan, hingga pernikahan semua adalah salah perempuan. Menikah disini adalah alat untuk menutup mulut dan penghasil keturunan, bukan untuk eksistensi pernikahan itu sendiri. 

Meski ditulis seorang laki-laki, Brian Khrisna sangat detail menggambarkan bagaimana kesenjangan sosial dan isu yang diangkat terjadi. Ada sekitar 5 perempuan yang melawan ketidakadilan dan kesenjangan sosial di hidupnya dengan cara yang bermacam-macam. Bahkan mengobarkan harta satu-satunya.

Baca juga:  5 Tips Memanjangkan & Melebatkan Alis secara Alami, Cocok untuk yang Suka Cabut Berlebihan!

Totto-Chan

Perempuan Melawan
Totto Chan (Goodreads)

buku ini adalah autobiografi penulisnya, Tetsuko Kuroyanagi, saat masa kecil. Totto Chan adalah gadis yang periang dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku ini memiliki pesan moral untuk menghargai setiap perbedaan yang dimiliki oleh anak-anak. Bahwa pendidikan dan lingkungan yang tepat akan memberikan dampak yang positif serta sosial yang mendukung. 

Karakter Totto chan adalah bentuk perempuan yang melawan terhadap sistem yang menstandarkan semua perilaku anak. Jika perempuan hanya boleh patuh, maka Totto Chan berusaha bertanya dan berpendapat. Representasi “Gadis Kecil di Jendela” adalah Totto Chan yang melihat dari luar sistem, dari sudut yang tidak biasa.

Kimchi Confessions

Perempuan Melawan
Kimchi Confessions (Goodreads)

Menceritakan tentang perjalanan Xaviera Putri ketika menempuh pendidikannya di Korea. Buku ini memaparkan suka duka, dan perjuangan Xaviera dalam beradaptasi di negara orang lain. Xaviera menjadi perempuan yang melawan tantangan, batasan norma, dari luar maupun dari dirinya sendiri. Ia menulis dan membagikan pengalamannya, sebagai wujud kebebasan suara perempuan.

Baca juga:  Self-Worth Check: Perempuan Hebat Bukan Cuma dari Prestasi

Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Perempuan Melawan
Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Buku ini menceritakan tentang praktik tradisi kawin tangkap yang saat ini semakin disalahgunakan. Magi Diela, sang karakter utama, berusaha mati-matian untuk bebas dan melawan dari keluarga, adat istiadat dan seisi kampung. Buku ini adalah bentuk perempuan yang melawan adat istiadat yang tidak sesuai dengan norma. Meletakkan perempuan hanya sebagai binatang bukan manusia. Buku ini penuh darah, emosi dan kritik sosial. Cocok digunakan sebagai bahan diskusi atau bacaan sendiri menyambut Hari Kartini.

Itulah 5 rekomendasi buku inspiratif tentang perempuan yang melawan untuk kamu baca di Hari Kartini ini. Mari terus bersuara dan melawan. Dari kelima buku itu, Baeauties sudah baca yang mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top