Akhir-akhir ini, di fyp TikTok dan Instagram banyak konten tren fashion dan kecantikan yang dianggap sebagai indikasi resesi atau tanda meningkatnya konservatisme. Tidak bisa dipungkiri kalau pada tahun 2025 ada banyak ketidakpastian ekonomi.
Namun, apakah benar kalau semua aspek fashion adalah gejala dari resesi? Yuk, simak!
Tren 2025 yang Dianggap Sebagai Tanda Resesi
Tradwife, “I’m just a girl”, pilates, skinnytok, old money aesthetic, mayoritas dari tren tersebut cenderung condong ke menuruti standar tradisional tentang perempuan. Kebalikan dari tren di tahun sebelumnya, seperti 2016 dan COVID-19 yang dianggap lebih menghargai kebebasan berekspresi. Terlepas dari menuruti ekspektasi sosial sebagai perempuan, yang mana standar kecantikan yang lebih luwes dan fleksibel, rambut yang berwarna, dan piercings, beredar di medsos.
Sekarang kebanyakan orang memilih makeup serta pakaian-pakaian yang dianggap bisa dipakai di kantor maupun hangout, yang menurut beberapa pengguna dianggap sebagai tanda resesi karena susahnya mencari dan mempertahankan pekerjaan dalam ketidakpastian ekonomi.
Apa Landasan Teori Tersebut?
Kebanyakan pengguna mendasari teori mereka dari fashion perempuan dari abad ke abad. Contohnya adalah saat tahun 1920-an dengan para flapper dan kehidupan mereka yang bebas. Flapper adalah para perempuan muda pasca perang dunia pertama dari tahun 1920-an yang modis dan menentang ekspektasi sosial, serta hidup dengan melakukan segala hal yang dianggap tabu di masyarakat.
Setelah itu, krisis ekonomi besar bernama The Great Depression di tahun 1930-an terjadi. Sejak saat itu, rambut dan rok perempuan kembali memanjang, dan lengan baju kembali muncul di pakaian perempuan. Mereka yang membuat teori kalau fashion adalah indikasi resesi menganggap bahwa saat perempuan harus menggantungkan diri pada laki-laki di keadaan ekonomi yang memburuk, mereka akan memakai baju yang dicap sebagai perempuan baik-baik agar bisa mendapat sokongan dana lewat pernikahan. Atau, mereka harus menuruti standar sosial dalam berpakaian agar bisa mendapatkan pekerjaaan.
Tidak hanya itu, teori mereka juga berdasar pada resesi besar pada tahun 2007 hingga 2009 yang mempengaruhi seluruh dunia. Pada periode itu, tren kecantikan bagi perempuan adalah tubuh yang sangat kurus. Berbagai media menunjukkan standar tubuh yang dianggap tidak realistis.
Pinggang yang kecil dan celah di antara kedua paha dianggap ideal. Dan isi majalah mengenai selebriti yang paling kurus, best and worst beach bodies beredar dengan bebas. Majalah kerap memberitahukan jika berat badan seorang selebriti naik atau turun, bahkan di sampul majalah. Maka, banyak orang yang menganggap bahwa tren sekarang yang merefleksikan fashion pada dua krisis ekonomi ini adalah resesi.
Namun, poin-poin tersebut tidak seratus persen benar. Karena pada dasarnya, sebuah tren fashion akan selalu kembali. Serta, pakaian tidak selalu mencerminkan perilaku dan nilai yang dipegang teguh oleh seseorang. Justru, menurut Vogue, industri fashion sedang mempersiapkan diri dan beradaptasi dengan berbagai perubahan perilaku dari konsumen, dan walaupun tren berpakaian itu tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi, tren tersebut menunjukkan apa yang sedang terjadi dan dilihat oleh industri fashion.